Tema yang saya angkat kali ini yakni manajemen TPA/TPQ, manajemen “hangat-hangat tai ayam”. Jika kita melihat pengelolaan TPA/TPQ di kebanyakkan masjid kita saat ini, tema ini terasa sangat cocok dengan kondisi TPA/TPQ kita, yang semakin hari, semakin memprihatikan saja. Perjalanan sekian lama mengelola TPA/TPQ, ternyata amat jauh dari kesan maju, tidak ada perkembangan yang berarti, bahkan kecenderungannya semakin mundur saja, hal ini amat terlihat bagaimana dengan pengurus masjid yang bersemangat dulu, ternyata semangatnya semakin pudar saja, ustadz/ah TPA/TPQ yang digadang-gadang mampu memberikan pelajaran Al Qur’an, akhirnya pergi entah kemana . Ya, inilah wajah TPA/TPQ kita saat ini, wajah pengelolaan TPA/TPQ dengan manajemen “hangat-hangat tai ayam”, semangat hanya diawal saja, setelah itu tak tahu harus bagaimana.
Tampilkan postingan dengan label TAMAN PENDIDIKAN AL QUR'AN (TPA/TPQ) Plus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAMAN PENDIDIKAN AL QUR'AN (TPA/TPQ) Plus. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Desember 2011
Manajemen TPA/TPQ, manajemen “hangat-hangat tai ayam”
Belajar “Memuliakan” Tenaga Pengajar TPA/TPQ (Pengajar Al Qur’an)
Ditengah a siknya dirinya bercerita, saya sesekali bertanya padanya untuk lebih menjelaskannya lagi bagaimana suka dan dukanya menjadi pengajar TPA/TPQ selama ini, .Saat itu saya bertanya padanya, apakah selama ini tidak ada pertemuan rutin dengan pengurus masjid setempat (sebagai bentuk dukungan) dan dana operasional dari pengurus masjid ? Ia memberikan jawaban yang sangat mengherankan saya, jangankan pertemuan mas, melihat langsung TPA/TPQ saja ngak pernah dilakukannya. Sedangkan untuk dana operasional TPA/TPQ saja kita diharuskan membuat proposal terlebih dulu, padahal dana yang kita minta hanya cuma Rp. 50 ribu saja. Mendengar jawaban tersebut, saya sangat heran dan tak hampir pikir dengan perjalanan TPA/TPQ di masjid tersebut. Dalam hati saya hanya bisa prihatin, kok zaman sekarang masih ada saja pengurus masjid yang tidak peduli dengan TPA/TPQ, khususnya lagi pengajar TPA/TPQ (seiring dengan perjalanan waktu, pada akhirnya TPA/TPQ di masjid tersebut mati karena tak terurus dengan baik).
Kalau tidak ke TPA/TPQ, Ke mana anak anda mau belajar Al Qur’an ?
Lahirnya seorang anak sholeh/ah bukan tiba-tiba saja muncul, tapi perlu ada pendidikan dan penanaman sejak usia dini. Ibarat tumbuhan, seorang anak perlu dirawat dan dijaga dengan baik. Semakin baik perawatan kita tentu akan semakin baik pula hasilnya. Salah satu yang seharusnya ditanamkan oleh para orang tua, sebagai bentuk penjagaan adalah bekal-bekal Al Qur’an. Al Qur’an adalah bekal utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh para orang tua saat ini. Tanpa bekal Al Qur’an mustahil kita akan mampu mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh/ah, sebab Islam memandang bahwa faktor yang menentukan seorang anak dikatakan sholeh/ah, dirinya memiliki bekal Al Qur’an.
PEDULI TAMAN PENDIDIKAN AL QUR’AN
Jika kita menyaksikan perjalanan TPA/TPQ ini hari ini, mungkin anda hanya bisa prihatin dan meratapi nasib, bagaimana tidak? Dari sisi pengajarnya tidak punya kualitas dan hanya bermodalkan keikhlasan, kalau diberi subsidi yang pantas (sebagai bentuk penghormatan pada para pengajar Al Quran) dikritisi habis-habisan, manajemen TPA/TPQ amburadul, jumlah santri/wati hampir satu kampung, sedangkan pengajarnya hanya segelitir orang saja, miskin dana (sebab pengurus masjid sangat pelit mengelurkan dana untuk TPA/TPQ) dan lain sebagiannya. Walhasil, tidak ada yang bisa membuat kita bangga dari perjalanan TPA/TPQ saat ini. Bagaimana kita akan bangga, kalau hampir seluruh perangkat pembelajaran di TPA/TPQ masih compang-camping alias amburadul ? Inilah kenyataan TPA/TPQ di masjid kita hari ini, kalau pun ada TPA/TPQ yang masih bisa berjalan, berjalannya pun antara hidup dan mati, sedangkan TPA/TPQ yang mati dan tinggal nama, tak terhitung jumlahnya.
TPA/TPQ diharap, tapi dilupakan …kok bisa???
Kalau kita mau jujur, saat ini hampir tidak ada TPA/TPQ yang bisa dikatakan baik, yang ada serba memprihatinkan, coba kita tengok satu persatu, mulai dari kualitas ustadz/ah dalam hal bacaan Al Qur’an, moyoritas ustadz/ah TPA/TPQ saat ini tidak mampu membaca Al Qur’an yang baik sesuai dengan kaidah bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw., kalau ustadz/ah saja membaca Al Qur’annya salah, lalu bagaimana dengan para santri/wati TPA/TPQ yang diajarnya, trus ditambah lagi dengan perhatian para ustadz/ah atau Pengurus TPA/TPQ kebanyakan hanya waktu sisa semata, maka hasilnya pun juga sisa-sisa. Belum lagi jika dilihat dari kurikulum, tidak Memiliki kurikulum yang jelas, sehingga tidak tahu kemana arah pengajaran Al Qur’an mau dicapai, yang ada hanya sebatas ngaji dan ngaji semata tanpa pijakan yang jelas dan masih banyak lagi kekurangan serta kondisi yang memprehatinkan dari TPA/TPQ saat ini.
Taman Pendidikan Al Qur-an (TPA/TPQ) Adakah yang peduli denganmu….?
Belum lama, aku menghadiri acara yang diselenggarakan oleh salah satu masjid di Kota Solo. Acara tersebut berlangsung dari pagi hingga menjelang dhuhur tiba, setelah adzan sholat dhuhur dikumandangkan akupun bergegas sholat dengan harus antri berwudhu terlebih dahulu. Disaat menunggu giliran wudhu, akupun tidak membuang kesempatan untuk mencari tahu atau sekedar ingin tahu berbagai pengumuman kegiatan Islam yang terpampang tidak jauh dari tempatku berwudhu. Dari sekian pengumuman yang ku baca , tak satupun yang membuatku tertarik atau sedikit memberikan perhatian, tapi justru aku tertarik pada laporan keuangan masjid yang terpampang dengan sangat jelasnya. Mengapa aku begitu tertarik ? Tak lain karena nominal dana saldo yang begitu fantastis, anda ingin tahu kira-kira berapa juta ? Mungkin kebanyakkan dari anda akan memberikan jawaban tidak kurang dari Rp. 10 juta bukan? Wah … jawaban anda salah, saldo masjid tersebut mencapai puluhan juta rupiah.
Langganan:
Postingan (Atom)